kolom tarik

BALADA KOLOM TARIK

Posted on Updated on

Alkisah di suatu kantor konsultan struktur di ibukota, seorang insinyur sedang pusing kepalang akibat hasil output software ETABS analisisnya menunjukkan nilai capacity ratio sebesar lebih dari 2 untuk salah satu kolom beton pada modelnya. Insinyur tersebut akhirnya memperbesar section kolom namun ternyata hasilnya tidak berubah. Setelah dilakukan penyelidikan akhirnya diketahui bahwa kolom ini terkena gaya tarik yang tinggi untuk salah satu load combination-nya.

Insinyur tersebut sadar bahwa menambah dimensi kolom atau memperbesar mutu beton tidak akan membantu mengurangi nilai capacity ratio. Akhirnya dia memutuskan bahwa satu – satunya cara adalah dengan menambah tulangan baja pada kolom tersebut. Insinyur tersebut akhirnya menambah tulangan baja hingga nilai capacity ratio kurang dari satu, dan didapatkannya presentase tulangan pada kolom tersebut sebesar 3.5 %. Dengan lega ia bisa melanjutkan ke tahap finalisasi model serta tahap penggambaran.

Sekian tahun kemudian, setelah menimba ilmu lebih banyak mengenai modelisasi dari pengalaman maupun buku – buku barat illegal/fotocopy, insinyur tersebut sadar bahwa yang ia pernah lakukan terhadap kasus kolom tarik adalah tidak hanya salah, namun cenderung unconservative. Sekedar intermezzo, kata unconservative disini dipilih dibandingkan kata unsafe atau collapse, karena dengan tingginya degree uncertainty, rasanya hampir tidak mungkin bisa memprediksi bangunan itu unsafe atau collapse hanya dari output capacity ratio dari software ETABS. Read the rest of this entry »

Advertisements