ASCE 7-10

Beban Gempa Untuk Pondasi Sesuai ASCE 7-16 dan IBC 2015

Posted on Updated on

Kalau membicarakan beban gempa untuk pondasi selalu menarik. Akhir – akhir ini dari referensi yang penulis baca terutama dari ASCE 7-16 dan NEHRP 2015, yang membuat penulis cukup kaget adalah “lebih dijelaskannya” oleh ASCE 7-16 bahwa gaya gempa untuk desain pondasi adalah gaya gempa dibagi nilai R. Dari sana ASCE 7-16 menjelaskan bahwa bukan gaya gempa dikalikan faktor kuat lebih. Mari kita lihat pasalnya :

ASCE C12.13.1

(ASCE 7-16 Draft Pasal C12.13.1)

Read the rest of this entry »

Advertisements

Wind Speed untuk wilayah Indonesia

Posted on Updated on

SNI Pembebanan (SNI 1727-2013) sudah dikeluarkan, namun sayangnya pembuatnya tidak menyebarkannya dulu ke pihak terkait terutama insinyur sehingga banyak yang kurang jelas dan terlihat cenderung copy-paste dari ASCE 7-10.

Salah satunya adalah tentang Wind Speed yang digunakan di Indonesia, untuk yang satu ini memang tidak bisa copy – paste dari code nya US, sehingga cenderung ada informasi yang hilang dari code SNI Pembebanan tersebut. Read the rest of this entry »

Komentar Tentang Kombinasi Pembebanan Untuk Gaya Uplift

Posted on Updated on

Sebenarnya problem ini sudah lama saya rasa, tapi baru akan diceritakan sekarang melalui blog ini. Ini masalah kombinasi pembebanan yang rasanya kurang rasional, yaitu :

ASCE ASD LC8

Read the rest of this entry »

Perubahan Site Amplification Factors Pada ASCE 7-16

Posted on

Pada chapter 11 ASCE 7-16 ada yang menarik perhatian saya, yaitu perubahan mengenai site amplification factors untuk short period (Fa) dan long period (Fv). Perubahan tersebut dapat dilihat berikut ini :

Fig 1 Fa

Fig 2 Fv

Read the rest of this entry »

Hot Issues Untuk Analisa Bangunan Tahan Gempa

Posted on Updated on

Hot Issue

Karena di US lagi banyak – banyaknya publikasi tentang rekomendasi/masukan untuk edisi baru ASCE 7-16/NEHRP 2015, jadi kalau dibaca – baca banyak juga yang menarik. Beberapa point rekomendasi yang menarik minat saya misalnya :

1. Masukan tentang partisipasi massa 90 %

Sudah banyak yang tahu kalau dalam melakukan analisa dinamik, jumlah mode yang digunakan adalah sebanyak mungkin sampai partisipasi massa min 90 %. Sebenarnya cara ini adalah cara konvensional dikarenakan saat itu dipahami sulitnya untuk mendapatkan partisipasi massa sampai 100 % karena ada beberapa mode frekuensi tinggi yang tidak ditangkap oleh metode eigen. Namun berkembangnya teori komputasi numerik dan kecanggihan komputer, masalah ini sekarang dapat diakali. Read the rest of this entry »

Komentar Mengenai Irregularitas Torsi

Posted on Updated on

Konsepnya sudah lama diperkenalkan di US, tapi di Indonesia masih terdengar belum familiar, yaitu tentang irregularitas torsi. Ini pengalaman penulis sendiri, beberapa rekan senior di kantor masih memegang konsep lama yaitu periode getar 1 dan 2 harus dominan translasi, sementara periode getar ketiga boleh rotasi. Padahal kontribusi dominan massa rotasi pada periode tidak bisa digunakan sebagai indikasi “final” bahwa bangunan memiliki kriteria sebagai irregularitas torsi. Tetap respon struktur berupa deformasi yang harusnya dijadikan acuan, bukan parameter modalnya. Namun memang munculnya periode dominan rotasi pada mode 2 bisa jadi “early warning” bahwa mungkin bangunan yang didesain masuk kategori irregularitas torsi.

Jadi di SNI gempa 2012 yang mengadopsi ASCE 7-10 ada kriteria untuk menentukan apakah bangunan dikategorikan sebagai memiliki irregularitas torsi, dimana ada dua tipe irregularitas torsi yaitu tipe 1a dan tipe 1b. Tipe 1a yaitu jika simpangan maksimum lebih dari 1.2 kali simpangan rata – rata, atau bisa dikatakan simpangan pada satu titik ujung lebih besar 1.5 kali dari simpangan ujung yang lain, sementara Tipe 1b (extreme torsional irregularity) yaitu jika simpangan maksimum lebih dari 1.4 kali simpangan rata – rata, atau bisa dikatakan simpangan pada satu titik ujung lebih besar 2.33 kali dari simpangan ujung yang lain.

Read the rest of this entry »

Mengapa Dalam Menghitung Nilai Drift Struktur Tidak Digunakan Faktor Redundancy dan Pembatasan Periode Getar ?

Posted on Updated on

Pengecekan nilai deformasi dan drift pada struktur sangat diperlukan untuk membatasi respon nonlinear struktur pada ambang degregasi material dan juga membatasi amplifikasi momen guling akibat pengaruh P-Delta. Namun pada ASCE 7-10, pengecekan nilai drift dan deformasi tersebut tidak perlu mempertimbangkan pengaruh faktor redundancy ( ρ ) dan pembatasan periode getar (CuTa). Hal ini disebabkan karena :

  • Untuk kasus redundancy struktur, nilai ini digunakan sebagai finalti untuk bangunan yang kurang redundan. Nilai R pada tabel 12.2-1 ASCE 7-10 diambil berdasarkan struktur yang redundan, sehingga jika struktur yang dianalisis tidak memenuhi kriteria struktur redundan, nilai R harus direduksi dengan membaginya dengan faktor 1.30. Hal ini hanya berlaku untuk gaya geser, sementara tidak untuk deformasi struktur. Jika kita menggunakan gaya geser dengan nilai R yang direduksi dengan faktor redundancy untuk menghitung deformasi struktur, maka kita akan mendapatkan deformasi yang lebih besar, ini adalah salah karena nyatanya struktur yang justru redundan akan memiliki kapasitas deformasi yang lebih besar karena dapat memiliki deformasi nonlinear global pasca elastik yang lebih tinggi dibandingkan dengan struktur yang kurang redundan (lihat grafik berikut). Oleh karenanya tidak diperlukan faktor redundancy dalam menghitung nilai deformasi dan drift.

Read the rest of this entry »