FAQ Tentang Stiffeness Modification Factor

Posted on Updated on

(note: tulisan yang dicoret artinya sudah superseded, lihat catatan * di akhir tulisan, update terakhir 03-07-2015)

Kali ini saya akan membahas mengenai nilai modifikasi faktor untuk kekakuan dalam analisis kegampaan. Metode reduksi ini memang banyak menjadi perdebatan dalam prakteknya. Okay akan saya bahas satu-persatu :

1. Ketika melakukan analisis gempa, berapa modification factor yang harus saya berikan di model ?

Jawab :

Untuk melakukan analisis gempa, direkomendasikan menggunakan dua tahap analisis yaitu tahap pertama penentuan base shear, dan tahap kedua penentuan gaya – gaya pada elemen untuk desain. Pada tahap pertama penentuan base shear, ACI 318-11 pada penjelasannya R10.10.4.1 menjelaskan bahwa perhitungan periode getar yang digunakan yang nantinya dipakai dalam menentukan nilai base shear adalah pada saat kondisi service, dimana jika tidak dilakukan analisis yang akurat mengenai besarnya reduksi kekakuan (dalam hal ini EI), maka bisa didekati dengan mengalikan reduksi pada section 10.10.4.1 dengan faktor 1.0/0.7 = 1.43 kali.*

Misal kolom yang tadinya 0.7 jadi 1.0 (uncrack), balok T yang tadinya 0.35 menjadi 0.5, balok kotak yang tadinya 0.7 (dua kali 0.35) menjadi 1.0 (uncrack).

Setelah periode getar didapatkan, base shear shear dihitung dengan periode getar tersebut (catatan : ini berlaku baik untuk metode statik ekuivalen maupun respon spektrum). Output dari analisis diolah untuk mendapatkan story force yang kemudian diambil dan di konversi ke statik (jika sebelumnya dihitung dengan metode RSP). Selanjutnya tahap dua, story force yang sudah dikonversi ke statik diberikan pada model struktur yang reduksi kekakuannya sesuai section 10.10.4.1 (tanpa scale 1.43 kali) lalu setelahnya elemen struktur dapat disesain. Read the rest of this entry »

Advertisements

Perubahan pada chapter 16 ASCE 7-16 dan 2015 NEHRP

Posted on Updated on

Tadi sore (8-17-2014) saya kebetulan tidak sengaja menemukan paper yang sangat menarik, kenapa menarik ?, karena di paper ini terdapat banyak ilmuan dan praktisi insinyur ternama di amerika yang intinya mereka ingin mengajukan perubahan mengenai chapter 16 pada ASCE 7-10.

Ini memang menjadi perdebatan seru akhir – akhir ini, setelah maraknya analisa seismic struktur dengan menggunakan metode analisa yang lebih canggih yaitu Performance-Based Design (PBD), didukung dengan banyaknya lokal code yang telah dipublikasikan (PEER-2009 Guidelines for Performance-Based Seismic Design of Tall Buildings dan LATBSDC-2011 An Alternative Procedure for Seismic Analysis and Design of Tall Buildings), engineering terkadang sangat “yakin” dengan metode ini dan “mengaku” dapat mendesign struktur yang lebih aman dan lebih hemat menurut mereka.

Mengapa tidak, metode analisa dengan PBD memang benar – benar meng-gali kemampuan analitikal dan imajinasi insinyur untuk membuat sistem struktur yang handal untuk bangunan tinggi, nantinya struktur tersebut akan dianalisa dengan metode yang canggih yaitu Nonlinear Time History Analysis, dimana nonlinearitas dari semua elemen struktur penting dimodelkan sehingga benar – benar diusahakan mendekati kondisi real sebenarnya. Sementara itu, hal – hal yang tadinya tidak disarankan oleh code boleh diabaikan oleh insinyur. Misalnya, dan yang paling sering dijadikan alasan mengapa menggunakan PBD adalah batasan tinggi untuk struktural sistem. Umumnya bangunan tinggi yang berbentuk tower dimana core wall di tengah dan frame di perimeter, tidak bisa menggunakan sistem struktur special shear wall (single system), karena dibatasi oleh ketinggian 160 feet untuk seismic category D, E, dan F. Oleh karenanya jika mau benar – benar mengikuti code ASCE maka harus dual sistem dimana frame menahan 25% base shear.

Read the rest of this entry »