Structural Analysis

Toleransi konstruksi di Beton

Posted on Updated on

SNI Beton 2847-2013 mengatur mengenai toleransi dari tinggi efektif dari struktur dimana untuk nilai d<= 200 mm toleransi sebesar +-10 mm dan untuk d>200 mm toleransi sebesar +-13 mm, namun saya yakin pasti insinyur struktur tidak ada yang mempertimbangkan ini dalam desain, alasannya “This is how I was taught. This is how I have taught it. This is how I have always done it”. Read the rest of this entry »

Kisah Kolom slender dan ETABS

Posted on Updated on

Catatan : penulis di tulisan ini tidak menceritakan panjang lebar soal kolom slender dan cara desainnya, penulis berasumsi pembaca sudah tahu soal itu)

Ditengah banyaknya tulisan – tulisan atau ceramah dari ahli – ahli struktur yang cenderung mengarah ke makin konservatifnya desain, maka tulisan saya kali ini ingin membahas soal optimalisasi dari desain, terutama soal kolom slender. Read the rest of this entry »

Analisis Linear Elastik, Design Inelastik

Posted on Updated on

capture

Besarnya bending momen dan gaya lainnya pada struktur saat kondisi ultimate untuk beberapa beban kombinasi, pada praktiknya dilakukan menggunakan analisis linear elastik. Section dari member di desain untuk memiliki kapasitas ultimate yang paling tidak sama dengan bending momen dan gaya lainnya yang didapat dari analisis tersebut. Metode ini di rekomendasikan oleh ACI 318 dan peraturan negara – negara lain. ACI code juga merekomendasikan nilai reduksi bending stiffness, ataupun memperbolehkan insinyur untuk menggunakan nilai asumsinya sendiri asalkan nilainya konsisten dengan hasil analisis.

Memang hal ini terdengar sedikit kurang rasional. Jika section di desain dengan metode kekuatan, dimana sifat inelastik dari beton dan baja diperhitungkan, namun input besarnya bending momen dan gaya lainnya didapat dari analisis linear elastik, yaitu sifat inelastik justru tidak diperhitungkan. Read the rest of this entry »

Rasionalisasi dibalik inersia T-Beam

Posted on

Pada balok nonprestress yang dibuat monolit dengan slab, maka modelisasi matematik struktur harus mempertimbangkan pengaruh penambahan kekakuan akibat dari flange pada balok T (T-Beam). Hal ini diatur dalam code ACI 318-14 yaitu :

t-beam Read the rest of this entry »

GAMA TOWER #1 Tallest building in Indonesia

Posted on

gama-tower

gama_tower_project_specific_body_3_750px_wide

( Pak Made dan Pak Marten dari TTW Indonesia, Struktur engineer yang mendesain bangunan tersebut)

Beban Gempa Untuk Pondasi Sesuai ASCE 7-16 dan IBC 2015

Posted on Updated on

Kalau membicarakan beban gempa untuk pondasi selalu menarik. Akhir – akhir ini dari referensi yang penulis baca terutama dari ASCE 7-16 dan NEHRP 2015, yang membuat penulis cukup kaget adalah “lebih dijelaskannya” oleh ASCE 7-16 bahwa gaya gempa untuk desain pondasi adalah gaya gempa dibagi nilai R. Dari sana ASCE 7-16 menjelaskan bahwa bukan gaya gempa dikalikan faktor kuat lebih. Mari kita lihat pasalnya :

ASCE C12.13.1

(ASCE 7-16 Draft Pasal C12.13.1)

Read the rest of this entry »

Wind Speed untuk wilayah Indonesia

Posted on Updated on

SNI Pembebanan (SNI 1727-2013) sudah dikeluarkan, namun sayangnya pembuatnya tidak menyebarkannya dulu ke pihak terkait terutama insinyur sehingga banyak yang kurang jelas dan terlihat cenderung copy-paste dari ASCE 7-10.

Salah satunya adalah tentang Wind Speed yang digunakan di Indonesia, untuk yang satu ini memang tidak bisa copy – paste dari code nya US, sehingga cenderung ada informasi yang hilang dari code SNI Pembebanan tersebut. Read the rest of this entry »