Structural Analysis

Kisah Kolom slender dan ETABS

Posted on Updated on

Catatan : penulis di tulisan ini tidak menceritakan panjang lebar soal kolom slender dan cara desainnya, penulis berasumsi pembaca sudah tahu soal itu)

Ditengah banyaknya tulisan – tulisan atau ceramah dari ahli – ahli struktur yang cenderung mengarah ke makin konservatifnya desain, maka tulisan saya kali ini ingin membahas soal optimalisasi dari desain, terutama soal kolom slender. Read the rest of this entry »

Analisis Linear Elastik, Design Inelastik

Posted on Updated on

capture

Besarnya bending momen dan gaya lainnya pada struktur saat kondisi ultimate untuk beberapa beban kombinasi, pada praktiknya dilakukan menggunakan analisis linear elastik. Section dari member di desain untuk memiliki kapasitas ultimate yang paling tidak sama dengan bending momen dan gaya lainnya yang didapat dari analisis tersebut. Metode ini di rekomendasikan oleh ACI 318 dan peraturan negara – negara lain. ACI code juga merekomendasikan nilai reduksi bending stiffness, ataupun memperbolehkan insinyur untuk menggunakan nilai asumsinya sendiri asalkan nilainya konsisten dengan hasil analisis.

Memang hal ini terdengar sedikit kurang rasional. Jika section di desain dengan metode kekuatan, dimana sifat inelastik dari beton dan baja diperhitungkan, namun input besarnya bending momen dan gaya lainnya didapat dari analisis linear elastik, yaitu sifat inelastik justru tidak diperhitungkan. Read the rest of this entry »

Rasionalisasi dibalik inersia T-Beam

Posted on

Pada balok nonprestress yang dibuat monolit dengan slab, maka modelisasi matematik struktur harus mempertimbangkan pengaruh penambahan kekakuan akibat dari flange pada balok T (T-Beam). Hal ini diatur dalam code ACI 318-14 yaitu :

t-beam Read the rest of this entry »

GAMA TOWER #1 Tallest building in Indonesia

Posted on

gama-tower

gama_tower_project_specific_body_3_750px_wide

( Pak Made dan Pak Marten dari TTW Indonesia, Struktur engineer yang mendesain bangunan tersebut)

Beban Gempa Untuk Pondasi Sesuai ASCE 7-16 dan IBC 2015

Posted on Updated on

Kalau membicarakan beban gempa untuk pondasi selalu menarik. Akhir – akhir ini dari referensi yang penulis baca terutama dari ASCE 7-16 dan NEHRP 2015, yang membuat penulis cukup kaget adalah “lebih dijelaskannya” oleh ASCE 7-16 bahwa gaya gempa untuk desain pondasi adalah gaya gempa dibagi nilai R. Dari sana ASCE 7-16 menjelaskan bahwa bukan gaya gempa dikalikan faktor kuat lebih. Mari kita lihat pasalnya :

ASCE C12.13.1

(ASCE 7-16 Draft Pasal C12.13.1)

Read the rest of this entry »

Wind Speed untuk wilayah Indonesia

Posted on Updated on

SNI Pembebanan (SNI 1727-2013) sudah dikeluarkan, namun sayangnya pembuatnya tidak menyebarkannya dulu ke pihak terkait terutama insinyur sehingga banyak yang kurang jelas dan terlihat cenderung copy-paste dari ASCE 7-10.

Salah satunya adalah tentang Wind Speed yang digunakan di Indonesia, untuk yang satu ini memang tidak bisa copy – paste dari code nya US, sehingga cenderung ada informasi yang hilang dari code SNI Pembebanan tersebut. Read the rest of this entry »

Mengapa Balok T/L ?

Posted on Updated on

Ada beberapa insinyur yang lebih nyaman menggunakan pemodelan balok T/L sementara ada beberapa insinyur lagi yang lebih suka menyederhanakan masalah dengan hanya memodelkan sebagai balok kotak saja. Sebenarnya di ACI memang diharuskan untuk mempertimbangkan pengaruh dari slab jika di cor monolit terhadap balok, sehingga balok T/L sebenarnya adalah keharusan. Namun ACI kadang men-simplifikasi dengan mengatakan di komentarinya bahwa balok T/L dapat dimodelkan sebagai balok kotak dengan pendekatan inersia dikalikan dua. Menurut saya, ada beberapa alasan mengapa tetap harus balok T/L yaitu :

  1. Pendekatan inersia balok T/L adalah dua kali balok persegi adalah salah. Ini pendekatan yang tidak ada dasar ilmiahnya
  2. Jika kita memodelkan balok sebagai balok T/L, maka untuk kekuatan yang sama terhadap balok kotak, kita bisa mendapatkan demand tulangan yang lebih rendah untuk tulangan bawah lapangan akibat beban gravity, dan tulangan bawah tumpuan akibat beban gempa
  3. Dalam analisis gempa, dikenal istilah capacity design, dimana mekanisme ductile diharapkan terjadi terlebih dahulu sehingga bisa menyerap energi gempa sebelum elemen non-ductile yang terjadi dan dapat menyebabkan struktur berpotensi gagal. Peningkatan kekuatan pada balok akibat kontribusi slab oleh karenanya harus diperhitungkan dalam analisis capacity design beam/column capacity ratio dan joint shear, karena kalau tidak hasilnya bisa unconservatif.

Bukanlah hal yang sulit untuk memodelkan balok T/L, sehingga lebih baik meluangkan waktu sejenak untuk hasil yang lebih dapat diterima.