Kisah Kolom slender dan ETABS

Posted on Updated on

Catatan : penulis di tulisan ini tidak menceritakan panjang lebar soal kolom slender dan cara desainnya, penulis berasumsi pembaca sudah tahu soal itu)

Ditengah banyaknya tulisan – tulisan atau ceramah dari ahli – ahli struktur yang cenderung mengarah ke makin konservatifnya desain, maka tulisan saya kali ini ingin membahas soal optimalisasi dari desain, terutama soal kolom slender.

Okay langsung ke topik. Dalam desain kolom slender, faktor yang sangat penting adalah amplifikasi momen non-sway. Nilai amplifikasi ini berdasarkan pada beberapa faktor, dan salah satu faktornya yang penting adalah nilai kekakuan efektif yang digunakan.

Nah masalahnya ada di sini, dalam penentuan kekakuan efektif kolom, faktor reinforcement cukup menentukan. Namun dalam desain kolom, kita belum tahu banyaknya tulangan yang dibutuhkan. Oleh karenanya code membuat simplifikasi rumus tanpa mempertimbangkan pengaruh tulangan yang namun sayangnya sangat konservatif, dan ETABS melakukan pendekatan ini.

Kita ambil contoh kasus seperti ini :

kasus

Jika saya menggunakan rumus berikut :

rumus 1

Maka nilai EI untuk kasus 1 dan kasus 2 adalah 2.59E+13 dan  7.501E+13

Jika saya menggunakan rumus berikut :

rumus 2

Maka saya mendapatkan nilai EI untuk kasus 1 dan 2 adalah 7.44E+13 dan 1.34E+14 yang mana nilainya 2.9 dan 1.8 kali dari nilai EI yang tanpa memperhitungan tulangan. Bayangkan efeknya, kolom yang tadinya tidak masuk stress rasionya bisa saja menjadi masuk karena nilai P-eulernnya naik drastis.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s