Komentar Tentang Kombinasi Pembebanan Untuk Gaya Uplift

Posted on Updated on

Sebenarnya problem ini sudah lama saya rasa, tapi baru akan diceritakan sekarang melalui blog ini. Ini masalah kombinasi pembebanan yang rasanya kurang rasional, yaitu :

ASCE ASD LC8

Persamaan diatas adalah kombinasi pembebanan untuk peninjauan uplift akibat gempa untuk kombinasi ASD, yang rasanya kurang rasional adalah :

  • Beban dead load termasuk self weight yang digunakan adalah hanya 60 % saja. Ini jelas kurang rasional, karena variasi besaran beban dead load tidak mungkin sampai kurang 40 % dari hitungan insinyur, dan perlu  dicatat, ini untuk kondisi service dan bukan ultimate, atau dalam bahasa simple-nya adalah sangat bangunan dalam kondisi beban “biasa” dan bukan saat kondisi beban “ekstrem”. Kalau dilihat sejarahnya yang penulis baca, ini dikarenakan pembuat code men-simplifikasi pembebanan ASD kondisi uplift dengan membagi beban dead load dengan safety factor sebesar 1.6 dan beban gempa dengan safety factor 1.4, sehingga faktor dead load menjadi 0.6 dan faktor seismic load menjadi 0.7. Menurut penulis alasan tersebut kurang dapat diterima, faktor safety harusnya diberikan kepada elemen resistant dan bukan terhadap beban yang terjadi.
  • Pengabaian beban live load dalam kombinasi beban adalah tidak rasional, kecuali untuk bangunan satu lantai. Untuk bangunan dengan jumlah lantai dua atau bahkan puluhan, nilai faktor yang sangat konservatif menurut penulis adalah 25 % dari total live load di code, dan ini sudah konservatif untuk bangunan tipe office, untuk tipe bangunan seperti resident, mall, atau rumah sakit, nilai faktor live load bisa lebih besar lagi sampai 40 %.
  • Memasukkan pengaruh dari beban gempa vertikal sebagai pengurangan dari beban dead load kurang dapat diterima secara teori. Periode getar bangunan untuk percepatan vertikal jauh lebih kecil dibandingkan periode getar bangunan untuk percepatan horizontal. Ketika terjadi overtuning moment pada bangunan, percepatan gempa searah gravitasi memang mengurangi beban dead load sehingga mengurangi safety factor untuk elemen yang terkena gaya tarik, namun percepatan searah gravitasi tersebut akan segera berbalik arah kembali yang justru akan meningkatkan safety factor untuk elemen yang kritikal. Dan perlu dicatat kembali, bahwa percepatan arah horizontal dan vertikal saat gempa terjadi probabilitasnya kecil untuk terjadi maksimum pada waktu yang sama.

Oleh karena hal – hal tersebut, penulis kurang yakin dengan kombinasi beban tersebut. Selain itu, sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita kritisi untuk code yang akan diberlakukan secara nasional, namun yang penulis cukup kecewa adalah diadopsinya 100 % code dari US oleh Indonesia tanpa ada diskusi terlebih dahulu dari pembuat kebijakan ke kalangan insinyur yang berkepentingan. Padahal yang paling bertanggung jawab terhadap safety dari struktur tersebut adalah insinyur perencana dan bukan pembuat code.

Advertisements

2 thoughts on “Komentar Tentang Kombinasi Pembebanan Untuk Gaya Uplift

    Entahsiapa said:
    10/31/2016 at 5:48 PM

    Mas Ryan.. saya kira mereka para ahli/expert civil engineer pembuat code (seperti ASCE, IBC, UBC, Eurocode, dll) mempunyai pertimbangan/analisa yang matang dalam memutuskan sesuatu. Kita yang hanya mengadopsi lebih baik mencoba menggali infromasi lebih dalam lagi daripada hanya sekedar mengatakan apa yang tercantum dalam code adalah tidak logis. Fakta yang tidak bisa dipungkiri adalah mereka memiliki sistem pendidikan yg lebih baik dan budaya berpikir ilmiah yang jauh lebih baik daripada kita, sehingga sikap rendah hati untuk mencoba mencari tahu lebih dalam sebaiknya kita utamakan.
    Mengenai beban kombinasi beban lateral yang anda permasalahkan saya memiliki penjelasan sendiri diluar pemahaman anda. Tentunya hal ini masih bersifat debatable. Penjelasan saya seperti di bawah:
    Jika anda amati, setiap kombinasi pembebanan lateral (gempa dan angin) pasti memiliki 2 kombinasi beban yang saling berpasangan. Satu kombinasi beban untuk menciptakan kondisi reaksi gaya tekan maksimum, dan satu kombinasi beban lagi untuk menciptakan kondisi reaksi gaya tarik maksimum. Untuk kombinasi beban yang berfungsi menciptakan kondisi reaksi gaya tekan maksimum, beban dead load dan live load dikali dengan faktor pengali yang biasanya nilainya lebih besar atau sama dengan 1. Dan untuk kombinasi beban yang berfungsi menciptakan kondisi gaya tarik maksimum, beban dead load dan live load dikali dengan faktor pengali yang biasanya nilainya kurang dari 1. Beban kombinasi untuk kondisi tarik maksimum inilah yang sedang anda bahas disini. Secara logika saya, ini masuk akal, karena kita tidak dapat memprediksi berapa beban gempa yang akan terjadi secara tepat. Perhitungan gempa yang kita lakukan hanyalah metode pendekatan. Oleh karena itu nilai faktor pengali beban yang nilainya kurang dari satu (seperti 0.6) untuk beban mati hanyalah metode yang paling sederhana dan mudah guna mencapai tujuan tersebut (mendapatkan reaksi gaya tarik maksimum).
    Sekian.

    Like

    Ryan Rakhmat Setiadi responded:
    10/20/2017 at 7:34 AM

    Well pak, menurut saya dalam ilmu pengetahuan, semua bisa berubah 🙂

    Bukan berarti mereka dari US lebih baik dari yang lain, jujur kalau soal gempa, saya rasa negara – negara lain seperti Japan dan New Zeland, rasanya code nya lebih rasional dan lebih maju (ini pendapat pribadi pak). Gak usah bandingkan dengan negara maju, lihat Indian Code, mereka juga punya code yang sangat bagus bahkan beberapa ada yang dijadikan perhitungan standard international. Jadi kita sama – sama belajar dari code yang lain juga, gak kalah kok sama US 🙂 , Indonesia juga bisa asal semua insinyur-nya bersatu dan mau sharing pengetahuan satu sama lainnya, kita harus mulai untuk jangan copy paste code 100% dari US 🙂

    Kalau soal comment load faktor pak, saya sepakat dengan anda bahwa beban gempa sulit diprediksi, namun bukan beban mati. Oleh karenanya jika yang sulit di prediksi adalah beban gempa, maka faktornya harus di beban gempa, bukan di beban mati nya. Toh beban lateral gempa akan di konversi menjadi overtuning moment yang pada akhirnya juga menjadi tarik tekan di kolom.

    Semoga bermamfaat 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s