Komentar Mengenai Irregularitas Torsi

Posted on Updated on

Konsepnya sudah lama diperkenalkan di US, tapi di Indonesia masih terdengar belum familiar, yaitu tentang irregularitas torsi. Ini pengalaman penulis sendiri, beberapa rekan senior di kantor masih memegang konsep lama yaitu periode getar 1 dan 2 harus dominan translasi, sementara periode getar ketiga boleh rotasi. Padahal kontribusi dominan massa rotasi pada periode tidak bisa digunakan sebagai indikasi “final” bahwa bangunan memiliki kriteria sebagai irregularitas torsi. Tetap respon struktur berupa deformasi yang harusnya dijadikan acuan, bukan parameter modalnya. Namun memang munculnya periode dominan rotasi pada mode 2 bisa jadi “early warning” bahwa mungkin bangunan yang didesain masuk kategori irregularitas torsi.

Jadi di SNI gempa 2012 yang mengadopsi ASCE 7-10 ada kriteria untuk menentukan apakah bangunan dikategorikan sebagai memiliki irregularitas torsi, dimana ada dua tipe irregularitas torsi yaitu tipe 1a dan tipe 1b. Tipe 1a yaitu jika simpangan maksimum lebih dari 1.2 kali simpangan rata – rata, atau bisa dikatakan simpangan pada satu titik ujung lebih besar 1.5 kali dari simpangan ujung yang lain, sementara Tipe 1b (extreme torsional irregularity) yaitu jika simpangan maksimum lebih dari 1.4 kali simpangan rata – rata, atau bisa dikatakan simpangan pada satu titik ujung lebih besar 2.33 kali dari simpangan ujung yang lain.

ASCE Torsi

Pengalaman penulis menggunakan software ETABS 2015, respon struktur seperti gambar diatas hanya bisa terjadi jika digunakan rigid diaphragm pada pelat dan dilakukan analisa static. Jika digunakan analisis respon spectrum walaupun pelat sudah dimodelkan diapragma, tetap saja ketika dilihat deformasinya tidak terlihat seperti rigid. Ini menurut penulis karena respon deformasi tiap – tiap titik pada analisa respon spectrum diambil dari hasil CQC deformasi tiap mode, dimana walaupun respon tiap mode menggunakan asumsi rigid diaphragm tetap saja respon CQC final untuk deformasi tiap joint hasilnya tidak rigid. Hal ini membuat pengecekan irregularitas lebih mudah jika digunakan analisa static equivalent.

Untuk masing – masing finalti jika struktur masuk ke kategori irregularitas, memang tidak terlalu ekstrem finaltinya. Kecuali jika masuk ke kategori tipe 1b dan jika bangunan termasuk Seismic Design Category E atau F, dilarang dan struktur layout harus diubah sedemikian rupa sehingga tidak masuk ke category 1B lagi. Umumnya Seismic Design Category E dan F ini digunakan di daerah yang percepatan gempanya tinggi, missal pengalaman penulis di daerah Timika Papua. Sementara itu jika masih di Seismic Design Category D missal di Jakarta atau Surabaya, atau hanya masuk iregularitas torsi tipe 1a, finaltinya hanya tambahan gaya waktu pengecekan collector element (jarang di cek untuk struktur beton karena biasanya sudah aman), harus dilakukan analis dinamik 3D dengan gaya 100% + 30% (sudah biasa digunakan di design office), dan terakhir accidental torsion 5 % harus diamplifikasi dengan faktor Ax (tapi di ASCE ada provision yang memperbolehkan diabaikan hal ini jika digunakan analisis dinamik), Okay, Done !!!, masalah selesai. Jadi apa intinya :

Jika bangunan memiliki respon torsi di mode 2, bukan berarti langit jatuh ke bumi, di cek apakah bangunan memiliki torsional irregularity tipe 1B dan masuk Seismic Design Category E atau F, jika tidak, maka lanjut saja.

Selain hal di atas, sebenarnya ada hal lain yang ingin penulis komentari. Ini menurut pengalaman penulis dimana umumnya bangunan yang penulis tinjau memiliki rasio deformasi maksimum terhadap deformasi rata – rata yang besar di lantai bagian bawah dan semakin menurun untuk lantai yang semakin tinggi. Namun umumnya seperti diketahui bahwa drift bangunan di lantai bawah kecil, sementara ketentuan irregularitas tidak bergantung kepada besarnya drift, ini yang menurut penulis perlu dikritisi. Ambil contoh : jika bangunan dengan floor to floor 3.5 meter dan deformasi di lantai 1 terhadap ground 1.4 cm maksimum dan rata – rata 1 cm, maka struktur saya masuk kategori irregularitas torsi tipe 1B, padahal drift yang terjadi baru 0.014/3.5 =0.004 dan merupakan drift yang sangat kecil. Jika pada lantai tengah katakanlah di lantai 20, deformasi relative terhadap lantai bawahnya adalah 7 cm maksimum dan rata – rata 5.7 cm, maka struktur saya masuk kategori irregularitas torsi tipe 1A, dimana drift yang terjadi 0.07/3.5 =0.02 dan merupakan batas drift maksimum yng diijinkan. Untuk kasus pertama, walaupun struktur memiliki rasio deformasi sampai 1.4, drift yang terjadi sangat kecil, sehingga amplifikasi rasanya tidak perlu dibutuh karena tidak membahayakan pada lantai tersebut. Sementara kasus di lantai atas, ini yang perlu diperhatikan karena driftnya besar, namun karena masih dibawah 1.4 jadi kembali seperti penjelasan sebelumnya. Oleh karenanya menurut penulis, penentuan irregularitas torsi tanpa memperhitungkan besaran drift agak kurang dapat diterima.

Terakhir catatan : Untuk struktur yang mode torsi muncul di periode pertama, penulis tetap merekomendasikan merubah struktur sampai minimal torsi muncul di mode 2.

Versi PDF : https://www.academia.edu/13127294/Komentar_Mengenai_Irregularitas_Torsi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s