Month: June 2015

Dual system spesial shearwall dan moment frame

Posted on Updated on

(Minor Revisi 02-07-2015)

Hampir bisa dipastikan untuk bangunan tinggi dengan struktur beton yang di desain dengan SNI Gempa, jenis penahan gempa yang dipilih adalah dual system, yaitu gabungan antara spesial moment frame dan spesial shearwall. Hal ini dikarenakan penggunaan opsi momen frame saja tidak cukup ekonomis karena kurangnya kekakuan dari sistem ini. Selain itu single sistem yaitu penahan gaya gempa berupa wall dibatasi ketinggian maksimumnya hanya sampai sekitar 60 meter ketinggian (kecuali digunakan analisa PBD).

Jika digunakan dual sistem, maka nilai respon modificationnya ada di antara special shearwall atau moment frame, yaitu 7. Sebenarnya nilai ini diambil lebih kecil dari moment frame dikarenakan shearwall umumnya lebih kurang daktail, sementara peningkatan dari single sistem shearwall saja adalah dikarenakan dual sistem dianggap lebih redundan karena adanya backup system yaitu momen frame. Jadi jika shearwall sudah hancur akibat beban gempa yang tinggi, setidaknya beban gempa susulan setingkat service dapat ditahan oleh momen frame, oleh karenanya diberikan konpensasi peningkatan nilai R dari 6 ke 7.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Konsekuensi Dari Reduksi Kekakuan F22 Sampai 0.35 di Shearwall

Posted on Updated on

Saya ingin menyatakan lagi mengenai konsekuensi reduksi kekakuan f22 di shearwall yang sampai 0.35 , hal ini saya jelaskan kembali karena masih sering melihat insinyur yang melakukannya. jika ini dilakukan, maka anda juga ikut mereduksi kekakuan aksial shearwall tersebut sampai tinggal 35 % efektif, ini dikarenakan aksi lentur dan tekan/tarik bersifat saling terikat dikarenakan bersesuaian dengan tegangan aksial penampang struktur tersebut, jika digunakan software SAP/ETABS, maka tegangan tersebut adalah F22.

Konsekuensi utama dari mereduksi kekakuan aksial shearwall sampai 35 % adalah gaya – gaya aksial akan diredistribusi ke kolom sehingga menyebabkan underestimate gaya aksial di wall dan overestimate gaya aksial di kolom. Underestimate gaya aksial di wall menyebabkan underestimate pula nilai rasio PMM yang terjadi, sehingga dapat menyebabkan plastifikasi lentur-tekan yang lebih awal dari yang di inginkan pada shearwall. Di karenakan umumnya shearwall menahan beban lateral lebih dari 80 %, maka segara global efeknya adalah kebutuhan daktalitas yang lebih tinggi (Gambar 1), dimana nilai kebutuhan daktalitas yang lebih tinggi akan cenderung menyebabkan kerusakan yang lebih besar pula.

Read the rest of this entry »

Tower Saja Atau Tower Basement

Posted on

Tidak di group linkedin atau di manapun juga masih banyak perdebatan soal analisa struktur, apakah dua tahap (analisa tower dulu yang dijepit di ground, baru basement dianalisis dengan statik equivalen) atau analisa sekaligus (tower dan basement sekaligus dimodelkan dan dianalisis).

Di ASCE saya lihat cenderung ke arah analisa sekaligus, jadi jika ingin dianalisa dua tahap, maka diperlukan beberapa persyaratan yang harus dicakupi. Selain ASCE, di NEHRP dan TBI juga merekomendasikan analisa sekaligus. Kalau mau dilihat alasannya, rasanya juga cukup rasional. Mereka yang berada pada kubu ini berpendapat bahwa respon global struktur lebih penting dari respon lokal elemen. Maksudnya, dengan dilakukan analisa sekaligus, maka respon dinamik secara global lebih bisa dilihat dan pengecekan batasan code secara global yaitu drift dan deformasi akan didapatkan nilai yang sedikit lebih konservatif.

Sementara itu kubu lainnya berpendapat bahwa melakukan analisis tower saja dan dijepit di ground dianggap lebih konservatif pada gaya geser struktur, yang pengaruhnya tentu ke kebutuhan kekuatan untuk masing – masing element struktur (kebutuhan tulangan dan PMM ratio dll).

Kalau terus menurus diperdepatkan tidak akan ada ujungnya. Dari sisi kemudahan menurut penulis lebih mudah cara sekaligus, untuk segi akurasi real-nya, penulis tidak tahu mana yang paling benar, namun agaknya hasil akhir antar kedua metode tidak akan berbeda jauh.

Komentar Mengenai Irregularitas Torsi

Posted on Updated on

Konsepnya sudah lama diperkenalkan di US, tapi di Indonesia masih terdengar belum familiar, yaitu tentang irregularitas torsi. Ini pengalaman penulis sendiri, beberapa rekan senior di kantor masih memegang konsep lama yaitu periode getar 1 dan 2 harus dominan translasi, sementara periode getar ketiga boleh rotasi. Padahal kontribusi dominan massa rotasi pada periode tidak bisa digunakan sebagai indikasi “final” bahwa bangunan memiliki kriteria sebagai irregularitas torsi. Tetap respon struktur berupa deformasi yang harusnya dijadikan acuan, bukan parameter modalnya. Namun memang munculnya periode dominan rotasi pada mode 2 bisa jadi “early warning” bahwa mungkin bangunan yang didesain masuk kategori irregularitas torsi.

Jadi di SNI gempa 2012 yang mengadopsi ASCE 7-10 ada kriteria untuk menentukan apakah bangunan dikategorikan sebagai memiliki irregularitas torsi, dimana ada dua tipe irregularitas torsi yaitu tipe 1a dan tipe 1b. Tipe 1a yaitu jika simpangan maksimum lebih dari 1.2 kali simpangan rata – rata, atau bisa dikatakan simpangan pada satu titik ujung lebih besar 1.5 kali dari simpangan ujung yang lain, sementara Tipe 1b (extreme torsional irregularity) yaitu jika simpangan maksimum lebih dari 1.4 kali simpangan rata – rata, atau bisa dikatakan simpangan pada satu titik ujung lebih besar 2.33 kali dari simpangan ujung yang lain.

Read the rest of this entry »

Koleksi Buku Langka

Posted on Updated on

Tadi sore saya dari tempat fotocopy setelah mengambil fotocopy “buku istimewa” yang saya pinjam dari perpust UI. Sayang dulu waktu mahasiswa tidak memfotocopynya, sehingga ketika alumni tidak bisa pinjem lagi. Untungnya ada bantuan sehingga bisa minjem beberapa buku di perpust UI. Buku istimewa tersebut adalah :

Earthquake Engineering –  Robert L. Wiegel (Editor) – 1970

IMG_20150603_222407

Read the rest of this entry »

Balada Performance-Based Design

Posted on Updated on

Alkisah suatu hari ada insinyur sedang memberikan presentasi ke klien. Presentasi ini diberikan karena di awal si klien sudah meminta insinyur struktur agar mendesain struktur lebih kuat dan memiliki performance yang lebih baik saat gempa terjadi. Hal ini dikarenakan pengalaman pribadi klien pada salah satu bangunannya yang rusak parah saat gempa terjadi, selain kerugian akibat kerusakan bangunan, yang menjadi sorotan utama klien adalah kerugian yang sangat tinggi karena alat – alat pada pabrik di bangunan tersebut rusak total yang jika dijumlahkan nilainya bisa jauh lebih mahal dibandingkan nilai bangunan tersebut.

Insinyur struktur memperkenalkan metode bernama Performance-Based Design dan men-klaim dalam presentasinya bahwa bangunan yang di desain dengan metode ini akan memiliki performance yang lebih baik. Klien diberikan pilihan akan performance target yang ingin dicapai dimana pilihannya seperti berikut :

Performance Level Read the rest of this entry »

Mengapa Dalam Menghitung Nilai Drift Struktur Tidak Digunakan Faktor Redundancy dan Pembatasan Periode Getar ?

Posted on Updated on

Pengecekan nilai deformasi dan drift pada struktur sangat diperlukan untuk membatasi respon nonlinear struktur pada ambang degregasi material dan juga membatasi amplifikasi momen guling akibat pengaruh P-Delta. Namun pada ASCE 7-10, pengecekan nilai drift dan deformasi tersebut tidak perlu mempertimbangkan pengaruh faktor redundancy ( ρ ) dan pembatasan periode getar (CuTa). Hal ini disebabkan karena :

  • Untuk kasus redundancy struktur, nilai ini digunakan sebagai finalti untuk bangunan yang kurang redundan. Nilai R pada tabel 12.2-1 ASCE 7-10 diambil berdasarkan struktur yang redundan, sehingga jika struktur yang dianalisis tidak memenuhi kriteria struktur redundan, nilai R harus direduksi dengan membaginya dengan faktor 1.30. Hal ini hanya berlaku untuk gaya geser, sementara tidak untuk deformasi struktur. Jika kita menggunakan gaya geser dengan nilai R yang direduksi dengan faktor redundancy untuk menghitung deformasi struktur, maka kita akan mendapatkan deformasi yang lebih besar, ini adalah salah karena nyatanya struktur yang justru redundan akan memiliki kapasitas deformasi yang lebih besar karena dapat memiliki deformasi nonlinear global pasca elastik yang lebih tinggi dibandingkan dengan struktur yang kurang redundan (lihat grafik berikut). Oleh karenanya tidak diperlukan faktor redundancy dalam menghitung nilai deformasi dan drift.

Read the rest of this entry »