Asumsi – Asumsi yang Keliru Dalam Perencanaan Bangunan Tahan Gempa (Part 1)

Posted on Updated on

Asumsi 1 : Nilai faktor kuat lebih (Ωo) diberikan pada elemen struktur agar elemen tersebut masih bersifat elastic saat gempa terjadi.

Penjelasan : Nilai faktor kuat lebih (Ωo) diberikan pada elemen struktur tertentu agar setidaknya elemen tersebut mengalami kerusakan yang lebih kecil dibandingkan elemen yang lain. faktor kuat lebih (Ωo) ditentukan bukan agar elemen tersebut masih dalam kondisi elastik, hal ini dikarenakan berbagai kemungkinan yang tidak dipertimbangkan ketika analisa struktur dilakukan (misal fenomena redistribusi gaya) membuat asumsi member masih elastik hanya karena didesain dengan gaya yang lebih tinggi adalah asumsi yang kurang bisa dipegang secara ilmiah.

Asumsi 2 : Semakin tinggi bangunan, pengaruh dari dynamics soil – structure interaction pada respon bangunan saat gempa semakin dominan.

Penjelasan : Justru sebaliknya, pengaruh dynamics soil – structure interaction semakin kurang berpengaruh untuk bangunan tinggi, hal ini berlaku baik kinematic interaction maupun inertia interaction.

 

Asumsi 3 : Nilai response modification factor (R) hanya bergantung kepada sistem struktur dan material yang digunakan.

Penjelasan : Nilai response modification factor (R) sangat bergantung kepada banyak hal selain sistem struktur dan material yang digunakan. Hal lainnya yang sangat berpengaruh adalah tinggi bangunan, redundancy, irregularitas arsitekstur, ada tidaknya anti-seismic device system, nonstructural components, dan lain halnya. FEMA 695 menjelaskan metode yang lebih rasional dalam menentukan nilai R.

 

Asumsi 4 : Nilai kekakuan struktur beton independen terhadap jumlah tulangan.

Penjelasan : Nilai kekakuan struktur beton sangat berpengaruh terhadap jumlah tulangan. Semakin besar jumlah tulangan yang diberikan maka kekakuan akan semakin tinggi. Hal ini berlaku baik struktur sebelum atau sesudah crack. Asumsi Nilai kekakuan struktur beton independen terhadap jumlah tulangan digunakan untuk mensimplifikasi perencanaan struktur. Selain kekakuan merupakan fungsi jumlah tulangan, kekakuan lentur struktur beton juga berpengaruh terhadap gaya aksial yang terjadi.

 

Asumsi 5 : Periode getar struktur dari hasil analisis komputer adalah periode getar struktur saat gempa terjadi.

Penjelasan : Sulit untuk menentukan nilai periode getar struktur saat gempa terjadi, hal ini dikarenakan nilainya yang berubah – ubah bergantung kepada besarnya kerusakan pada structural dan nonstructural components. Semakin besar kerusakan yang terjadi saat gempa, maka periode getar akan semakin membesar. Namun umumnya nilai periode getar ada pada rentang hasil model komputer (sebagai Tmax) dan dari hasil rumus empiris (sebagai Tmin).

 

Asumsi 6 : Nilai damping pada struktur bangunan adalah 5%.

Penjelasan : Beberapa publikasi dari pengukuran respon dinamik bangunan akhir – akhir ini menjelaskan bahwa nilai damping pada bangunan tinggi umumnya lebih rendah dari 5 %. Nilai damping pada bangunan tinggi berada di kisaran 1-2 %. Hal ini dikarenakan pengaruh kinematic interaction pada tanah yang semakin menurun, serta kontribusi damping dari nonstructural components dimana pada bangunan tinggi sambungan nonstructural dibuat lebih isolated. Pengaruh lainnya adalah banyaknya jumlah partisi, sehingga apartemen umumnya memiliki damping yang lebih tinggi dibandingkan office.

 

—————————-end of part1——————————–

Artikel Versi PDF :

https://www.academia.edu/12315409/Asumsi_Asumsi_yang_Keliru_Dalam_Perencanaan_Bangunan_Tahan_Gempa_Part_1_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s