Month: January 2015

Brittle Vs Ductile

Posted on

Kemarin setelah bongkar – bongkar koleksi journal, ketemu gambar bagus dari paper-nya Gary C. Hart yang berjudul Living Buildings. Gambar tersebut menjelaskan mengenai kegagalan brittle (getas) dan ductile. Gambar tersebut bisa dilihat sebagai berikut :

ABC

Modal Analysis dengan Mempertimbangkan Geometric Stiffness (P-Delta)

Posted on Updated on

Dalam perencanaan struktur terhadap beban gempa, sudah menjadi kebiasaan di design office untuk menggunakan metode respon spektrum dibandingkan dengan statik equivalen. Selain mudah diaplikasikan dengan program komputer, analisis dengan metode respon spektrum juga lebih bisa diterima untuk tipe – tipe struktur yang memiliki irregularitas. Berbeda dengan saudara pendahulunya analisis statik equivalen yang memiliki batasan – batasan penggunaan.

Untuk menghitung gaya – gaya gempa dengan metode respon spektrum, insinyur harus terlebih dahulu melakukan analisa modal untuk mendapatkan parameter dinamik struktur dalam frequensi domain. Nah di perhitungan parameter modal tersebut, modal sway (translasi sumbu x dan y) menjadi parameter penting. Read the rest of this entry »

Kombinasi Pembebanan Pondasi di Indonesia dan Rekomendasi NEHRP / FEMA

Posted on Updated on

Revisi 30-09-2015 : Lihat note di akhir

Kombinasi pembebanan untuk perencanaan struktur pondasi dari Informasi yang saya dapat di Jakarta masih menggunakan metode Allowable Stress Design (ASD). Sementara itu, NEHRP melalui dokumentasi FEMA 750 dan 751 sudah menunjukkan metode perhitungan penggunaan metode Load Resistant Factor Design (LRFD). Di tulisan ini penulis akan mencoba membahas mengenai perencanaan pondasi terutama pondasi dalam dengan metode LRFD.

Pada ASCE 7-10 chapter 2 diterangkan mengenai kombinasi pembebanan dasar, yaitu untuk pembebanan nominal (LRFD) adalah :

Kombinasi Beban 1 Read the rest of this entry »

Kenapa Ada Faktor Reduksi Kekakuan ?

Posted on Updated on

ACI 318 mensyaratkan dalam analisa struktur beton harus memperhatikan efektivitas kekakuan akibat beban yang terjadi. Penggunaan nilai faktor efektivitas kekakuan ini didasarkan kepada umunya analisa struktur mengadopsi penyederhanaan 4 asumsi penting terhadap respon struktur, yaitu :

  1. Linear
  2. Elastik
  3. Isotropik
  4. Homogen

Sebenarnya, struktur beton tidak memenuhi ke-empat persyaratan tersebut. Oleh karenanya dilakukan penyederhanaan. Pada tulisan ini saya hanya akan membahas mengenai dua hal yaitu linear dan elastic.

Read the rest of this entry »

BALADA KOLOM TARIK

Posted on Updated on

Alkisah di suatu kantor konsultan struktur di ibukota, seorang insinyur sedang pusing kepalang akibat hasil output software ETABS analisisnya menunjukkan nilai capacity ratio sebesar lebih dari 2 untuk salah satu kolom beton pada modelnya. Insinyur tersebut akhirnya memperbesar section kolom namun ternyata hasilnya tidak berubah. Setelah dilakukan penyelidikan akhirnya diketahui bahwa kolom ini terkena gaya tarik yang tinggi untuk salah satu load combination-nya.

Insinyur tersebut sadar bahwa menambah dimensi kolom atau memperbesar mutu beton tidak akan membantu mengurangi nilai capacity ratio. Akhirnya dia memutuskan bahwa satu – satunya cara adalah dengan menambah tulangan baja pada kolom tersebut. Insinyur tersebut akhirnya menambah tulangan baja hingga nilai capacity ratio kurang dari satu, dan didapatkannya presentase tulangan pada kolom tersebut sebesar 3.5 %. Dengan lega ia bisa melanjutkan ke tahap finalisasi model serta tahap penggambaran.

Sekian tahun kemudian, setelah menimba ilmu lebih banyak mengenai modelisasi dari pengalaman maupun buku – buku barat illegal/fotocopy, insinyur tersebut sadar bahwa yang ia pernah lakukan terhadap kasus kolom tarik adalah tidak hanya salah, namun cenderung unconservative. Sekedar intermezzo, kata unconservative disini dipilih dibandingkan kata unsafe atau collapse, karena dengan tingginya degree uncertainty, rasanya hampir tidak mungkin bisa memprediksi bangunan itu unsafe atau collapse hanya dari output capacity ratio dari software ETABS. Read the rest of this entry »

Rigid-end Factor

Posted on Updated on

Dalam modelisasi struktur bangunan, insinyur harus sedapat mungkin memodelisasi struktur sesuai dengan kondisi “real-nya”. Memang hal ini tidak bisa dengan sempurna dilakukan, bahkan bisa dibilang standar praktis modelisasi struktur di software komputer cenderung masih jauh dari ideal.

Pada tulisan ini saya akan mencoba sedikit menjelaskan mengenai rigid-end factor pada struktur. rigid-end factor adalah suatu nilai dari 0 sampai 1 yang menggambarkan kekakuan dari joint pada sambungan balok dan kolom, dimana nilai 0 menandakan bahwa joint flexible (atau bisa dibilang asumsi center-line bertemu dan berdeformasi valid) dan nilai 1 menandakan joint rigid/kaku. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah.

Figure 1 Read the rest of this entry »