Month: August 2014

Periode Getar oh Periode Getar……

Posted on Updated on

(note: tulisan yang dicoret artinya sudah superseded, lihat catatan * di akhir tulisan)

Bicara soal periode getar memang dianggap hal yang “sakral” di dunia persilatan bangunan tahan gempa. Pasalnya periode getar struktur benar – benar “dianggap” sangat berpengaruh terhadap respon struktur terhadap gempa. Padahal, periode getar bukan satu – satunya parameter respon dinamik struktur, parameter lainnya yaitu mode shape dan partisipasi massa tidak kalah penting dibanding periode getar struktur. Tentunya jika analisisnya respon spektrum, kalau statik ekuivalen jadi lain cerita.

Pada tulisan ini saya ingin mengulas sedikit mengenai pasal kontroversial pada SNI gempa 2012 yang mengacu kepada ASCE 7-10. Yaitu pasal 12.8.2 pada ASCE 7-10 yang saya tunjukkan dibawah ini :

ASCE 12.8.2
Read the rest of this entry »

Advertisements

Nonlin Version 8.00 Software Gratis Analisa Struktur Untuk Pembelajaran

Posted on Updated on

Pembelajaran mengenai analisa gempa pada struktur memang harus ditanamkan dari kasus yang mudah. Misalnya dengan memamfaatkan pemodelan hanya Single Degree of Fredom (SDOF) saja. Banyaknya buku dinamika struktur sampai analisis gempa yang sederhana sampai yang advanced juga banyak dipasaran. Namun karena begitu banyaknya hal – hal yang dijelaskan oleh buku – buku tersebut, umumnya pelajar justru jadi kurang dapat memilah mana yang penting dan mana yang “cukup diketahui” saja.

Disini peran tool pada analisa struktur jadi penting. Biasanya software struktur analisis hanya menunjukkan opsi – opsi yang berguna saja pada softwarenya. Hal – hal yang menyangkut matematis menjadi opsional untuk diketahui. Yang penting seorang pengguna mengerti maksud dari opsi pada software tersebut dan kalau bisa “philosopis”-nya juga dipahami. Metode pembelajaran cara menggunakan “How to” yang dipelajari didepan, baru ditelah itu satu persatu maksud step – step tersebut dipahami, adalah metode pembelajaran yang sering saya gunakan saat mempelajari sesuatu, umumnya analis struktur. Dengan begitu saya tidak perlu membaca buku secara keseluruhan, cukup teori – teori yang digunakan oleh software analisa struktur saja.

Read the rest of this entry »

Auto National Size (h factor) pada SAP2000 v.17

Posted on Updated on

Analisa nonlinear staged construction bukanlah menjadi analisa advanced yang jarang digunakan lagi. Analisa ini mulai banyak digunakan oleh konsultan untuk lebih mengetahui distribusi gaya – gaya pada struktur. Namun analisa nonlinear staged construction dengan creep dan shrinkage menjadi hal yang lain. Masalah analisa ini baru baru – baru ini bisa dilakukan di software analisa struktur. Misalnya SAP2000, baru bisa analisa creep dan shrinkage kalau tidak salah saat versi 14, sementara ETABS baru mulai di versinya yang terbaru ETABS 2013.

Analisa creep dan shrinkage pada nonlinear staged construction memang jarang digunakan konsultan. Analisa ini baru mulai penting jika struktur sudah sangat tinggi (misalnya sampai 50 lantai). Pengaruh pemendekan kolom menjadi cukup penting agar pelat tidak miring sehingga mengganggu kenyamanan penghuni bangunan. Nah di sini software yang umum dipakai misalnya SAP2000/ETABS jadi kurang bisa diandalkan. Memang software CSI terlihat terlalu menonjolkan analisa gempa dibandingkan untuk analisa nonlinear staged construction. Penulis pernah mencoba memakai analisa ini untuk suatu project dengan software ETABS 2013, namun dirasakan masih cukup sulit, terutama dalam men-definisikan nilai National Size pada software. Bayangkan, dikarenakan nilai National Size yang di-input di material model, padahal nilai ini bergantung dari geometri elemen, insinyur harus mendefinisikan material yang berbeda hanya karena nilai National Size yang berbeda.

Read the rest of this entry »

MODAL PUSHOVER ANALYSIS (PART 1)

Posted on Updated on

Pushover analisis memang bukan hal yang baru, metode ini sudah banyak dikenal akhir tahun 90an dan banyak dipakai sekitar awal tahun 2000an, tentu setelah software sudah banyak yang memberikan fasilitas nonlinearitas.

Metode pushover analisis banyak dipakai karena komputasinya lebih sederhana sehingga dapat difasilitasi oleh penggunaan computer. Metode lainnya yang lebih baik yaitu metode nonlinear dynamics masih sangat menguras resource computer (komputasinya bisa sangat lama), sehingga umumnya dihindari kecuali untuk research.

Pada artikel ini, saya hanya akan menjelaskan mengenai modal pushover dimana yang saya jelaskan hanya general saja (garis besar). Untuk detailnya bisa dicoba sendiri dengan mencari source yang lain mengenai dasar – dasar analisisnya (terutama modelisasi nonlinearitas).

Read the rest of this entry »

FAQ Tentang Stiffeness Modification Factor

Posted on Updated on

(note: tulisan yang dicoret artinya sudah superseded, lihat catatan * di akhir tulisan, update terakhir 03-07-2015)

Kali ini saya akan membahas mengenai nilai modifikasi faktor untuk kekakuan dalam analisis kegampaan. Metode reduksi ini memang banyak menjadi perdebatan dalam prakteknya. Okay akan saya bahas satu-persatu :

1. Ketika melakukan analisis gempa, berapa modification factor yang harus saya berikan di model ?

Jawab :

Untuk melakukan analisis gempa, direkomendasikan menggunakan dua tahap analisis yaitu tahap pertama penentuan base shear, dan tahap kedua penentuan gaya – gaya pada elemen untuk desain. Pada tahap pertama penentuan base shear, ACI 318-11 pada penjelasannya R10.10.4.1 menjelaskan bahwa perhitungan periode getar yang digunakan yang nantinya dipakai dalam menentukan nilai base shear adalah pada saat kondisi service, dimana jika tidak dilakukan analisis yang akurat mengenai besarnya reduksi kekakuan (dalam hal ini EI), maka bisa didekati dengan mengalikan reduksi pada section 10.10.4.1 dengan faktor 1.0/0.7 = 1.43 kali.*

Misal kolom yang tadinya 0.7 jadi 1.0 (uncrack), balok T yang tadinya 0.35 menjadi 0.5, balok kotak yang tadinya 0.7 (dua kali 0.35) menjadi 1.0 (uncrack).

Setelah periode getar didapatkan, base shear shear dihitung dengan periode getar tersebut (catatan : ini berlaku baik untuk metode statik ekuivalen maupun respon spektrum). Output dari analisis diolah untuk mendapatkan story force yang kemudian diambil dan di konversi ke statik (jika sebelumnya dihitung dengan metode RSP). Selanjutnya tahap dua, story force yang sudah dikonversi ke statik diberikan pada model struktur yang reduksi kekakuannya sesuai section 10.10.4.1 (tanpa scale 1.43 kali) lalu setelahnya elemen struktur dapat disesain. Read the rest of this entry »

Perubahan pada chapter 16 ASCE 7-16 dan 2015 NEHRP

Posted on Updated on

Tadi sore (8-17-2014) saya kebetulan tidak sengaja menemukan paper yang sangat menarik, kenapa menarik ?, karena di paper ini terdapat banyak ilmuan dan praktisi insinyur ternama di amerika yang intinya mereka ingin mengajukan perubahan mengenai chapter 16 pada ASCE 7-10.

Ini memang menjadi perdebatan seru akhir – akhir ini, setelah maraknya analisa seismic struktur dengan menggunakan metode analisa yang lebih canggih yaitu Performance-Based Design (PBD), didukung dengan banyaknya lokal code yang telah dipublikasikan (PEER-2009 Guidelines for Performance-Based Seismic Design of Tall Buildings dan LATBSDC-2011 An Alternative Procedure for Seismic Analysis and Design of Tall Buildings), engineering terkadang sangat “yakin” dengan metode ini dan “mengaku” dapat mendesign struktur yang lebih aman dan lebih hemat menurut mereka.

Mengapa tidak, metode analisa dengan PBD memang benar – benar meng-gali kemampuan analitikal dan imajinasi insinyur untuk membuat sistem struktur yang handal untuk bangunan tinggi, nantinya struktur tersebut akan dianalisa dengan metode yang canggih yaitu Nonlinear Time History Analysis, dimana nonlinearitas dari semua elemen struktur penting dimodelkan sehingga benar – benar diusahakan mendekati kondisi real sebenarnya. Sementara itu, hal – hal yang tadinya tidak disarankan oleh code boleh diabaikan oleh insinyur. Misalnya, dan yang paling sering dijadikan alasan mengapa menggunakan PBD adalah batasan tinggi untuk struktural sistem. Umumnya bangunan tinggi yang berbentuk tower dimana core wall di tengah dan frame di perimeter, tidak bisa menggunakan sistem struktur special shear wall (single system), karena dibatasi oleh ketinggian 160 feet untuk seismic category D, E, dan F. Oleh karenanya jika mau benar – benar mengikuti code ASCE maka harus dual sistem dimana frame menahan 25% base shear.

Read the rest of this entry »